7 mitos cloud hosting, bedanya dengan hosting tradisional

Ketika Anda memikirkan untuk membuat blog, dua hal yang perlu diperhatikan pertama kali adalah hosting dan domain.

Mungkin Anda juga akan membaca banyak review sebelum memutuskan untuk membeli hosting, seprti bagaimana kualitasnya, bagaimana dukungan tim support, bagus atau tidak, dll.

Tetapi…

Pasti Anda akan menemukan istilah “Cloud Hosting”. Padahal sebelum tahun 2010, istilah cloud ini tidak sebegitu banyak sekarang.

Pertanyaannya:

apa si cloud hosting itu?
apa yang membedakan cloud hosting dan hosting non cloud?

Mari kita bahas tuntas bagaimana istilah cloud hosting muncul.

Cerita pertama cloud hosting

Kata “cloud hosting” merupakan kata yang paling hot yang pernah terjadi dalam dunia teknologi hosting. Brand hosting apa saja yang di tambah kata “cloud” menjadi terdengar jadi sangat sexy.

Di Indonesia, kata cloud ini pertama populer pada tahun ~2010.

Coba cermati saja, penyedia layanan hosting yang muncul setelah 2010 banyak yang memasukan kata “cloud” di brand mereka.

…dan percaya atau tidak, sedikit banyak itu membawa hoki, hahaha… 😜

Pencetus kata cloud

Siapa si yang menyebutkan kata cloud pertama kali di dunia hosting?

Awal kata cloud populer adalah pada tahun 2006, ketika itu perusahaan besar seperti Google dan Amazon mulai menggunakan istilah “cloud computing“.

Kata cloud computing ini digunakan untuk mengenalkan bahwa aplikasi komputer tidak harus di-install di komputer rumahan saja. Kita juga bisa memakai aplikasi berbasis web.

Contohnya seperti aplikasi Microsoft Office, dulu orang-orang harus install aplikasinya di komputer masing-masing untuk menggunakannya.

Tetapi dengan cloud computing, sekarang tidak harus. Anda bisa memakai aplikasi web Office 365 atau Google Docs, tanpa harus intall aplikasinya.

Ayoo, saya yakin Anda pernah mengalami masa-masa ini…

Mulai populer di Indonesia

Perlu waktu sampai 5 tahun sampai akhirnya orang-orang Indonesia bisa memahami konsep cloud computing. Jangan bayangkan seperti sekarang, semua serba mudah, setiap aplikasi tinggal download terpusat.

Sebelum kata cloud ini muncul, orang-orang menginstall aplikasi tidak dari internet, tetapi dari CD/DVD.

Dulu, kita ke toko komputer untuk membeli software. Software disediakan dalam bentuk fisik.

Tidak ada Dropbox, Google drive untuk sharing file.

Contoh lainnya adalah ketika Anda membeli handphone. Packaging handphone dulu sangat banyak. Selain charger dan buku manual, Anda akan dikasih CD/DVD driver untuk komputer Anda.

Packaging handphone tahun 2006
gambar 1. Packaging handphone tahun 2006
(sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:SE_K800i_package.jpg)

Sampai akhirnya pada 2008 iPhone muncul, populer, dan mengenalkan istilah cloud ke banyak orang. Aplikasi tidak harus di-install dari komputer, bisa dari cloud.

dari sinilah shifting mulai terjadi…

Apa itu cloud computing

Seperti itulah awal mula kata cloud muncul dan populer.

Kata cloud atau yang berarti awan mengajak kita untuk menerima konsep bahwa kita tidak harus tahu aplikasi kita berasal dari mana…

…kita bisa menggunakannya semudah mengambil dari awan. Seperti awan, kita bisa menemukannya di mana-mana dan selalu tersedia.

7 mitos cloud hosting

Tahun 2006 tidak ada hosting yang memberi label dirinya cloud hosting. Padahal konsepnya sama, bisa diakses dimana saja, kita tidak tahu aplikasi kita di simpan secara fisik di mana.

Ketika kata cloud muncul dan populer, mulai banyak hosting yang memberi brand atau produknya dengan label cloud. Sebut saja produk-produk sperti cloud host, shared cloud, virtual cloud, dll.

Sekarang, terdengan familiar bukan?

Kenyataannya, tidak semua brand hosting tersebut menerapkan konsep cloud. Malah jadinya, muncul mitos-mitos yang muncul untuk cloud hosting.

Di Indonesia istilah cloud hosting mulai banyak digunakan pada tahun 2010 ke atas. Ada yang beneran cloud, tetapi ada juga sebatas nama saja (tidak beneran cloud).

Bagaimana Anda bisa membedakan cloud hosting beneran dengan cloud hosting abal-abal?

Berikut 10 mitos cloud hosting yang perlu Anda cermati sebelum membeli hosting cloud untuk blog Anda.

#1 cloud hosting mahal

Faktanya adalah cloud hosting bukan mahal, tetapi scalable. Artinya jika blog Anda tumbuh cepat, hosting Anda tidak crash. Hosting cloud bisa menyesuaikan sumber daya yang diperlukan.

Contohnya misal tulisan blog Anda viral, diluput di mana-mana. Pasti pengunjungnya banyak dan membludak. Karena banyak yang mengunjungi, jika hosting Anda tidak scaling. Besar kemungkinan blog Anda akan down.

Jika itu terjadi di cloud hosting, akan ada mekanisme scaling.

Sayangnya, karena sumber daya yang tinggi akibat scaling, maka harganya tidak fixed.

#2 cloud hosting lebih murah

Berbalik dari mitos pertama. Mitos ke-2 menyebutkan bahwa cloud hosting murah.

Bukan murah, tetapi cost effective. Pada cloud hosting kita tidak tahu resource yang kita pakai dari mana saja. Tetapi cloud hosting menjamin resource akan selalu ada sesuai kebutuhan.

Billing hanya menghitung resource yang Anda pakai saja. Berbeda dengan tradisional hosting, harganya fixed per bulan atau periode tertentu.

Contoh billing hosting cloud
gambar 2. Contoh billing hosting cloud

Artinya jika blog Anda sepi pengunjung, artinya resouce yang dipakai tidak banyak juga. Karena tidak banyak pemakaian, maka harga yang di bayar lebih murah.

#3 cloud hosting lebih aman

Tidak.

Baik cloud hosting maupun hosting tradisional kemanan data blog Anda hanya Anda sendiri yang bertanggung jawab.

Pihak hosting pastinya akan memberikan pengamanan terbaik. Tetapi jika Anda teledor membagikan password, aplikasi tidak terenkripsi. Kesalahan bukan ada di pihak hosting.

#4 tidak dda down time

Salah.

Sama seperti hosting tradisional, cloud hosting tidak sepenuhnya imun terhadap down time.

Hanya saja, bisanya cloud hosting sudah memiliki sertifikasi dan standard yang lebih baik dari hosting tradisional. Jadi down time bisa diminimalisir.

#5 harus jago IT

Salah.

Faktanya cloud hosting lebih simpel dibanding hosting tradisional.

Bebeda dengan hosting tradisional, tim bantuan biasanya membantu Anda langsung jika terjadi masalah. Anda terima jadi.

Pada cloud hosting karena sudah di-design sederhana, mereka biasanya membantu sebatas dokumentasi. Anda akan diarahkan untuk do it yourself.

Mungkin bagi beberapa orang, DIY ini menyeramkan. Padahal kenyataannya, hosting tradisional jauh lebih susah karena tidak ada interface sama sekali, Anda hanya terima jadi.

#6 tidak ada support IT

Seperti pada no-5 dijelaskan. Cloud hosting biasanya sudah di-design agar bisa digunakan dengan mudah. Interface dirancang sederhana.

Karena itulah tim bantuan dirasa tidak diperlukan.

Faktanya, Anda tetap bisa menhubungi tim support. Anda bisa bertanya apa saja.

Pada beberapa penyedia layanan cloud hosting support ini ada levelnya. Jika Anda memerlukan support yang instant levelnya tinggi, bisa berbayar.

#7 tidak ada yang tahu data anda di mana

Jika Anda meng-install blog Anda di hosting tradisional. Anda akan tahu data Anda disimpan di server yang mana, blok berapa, lokasinya di mana.

Di cloud hosting tidak seperti itu.

Anda hanya tahu data Anda disimpan di data center mana. Tetapi tidak akan ada yang tahu data Anda di simpan di server yang mana. Karena cloud hosting itu terdistribusi, sedangkan hosting tradisional terpusat.

Kesimpulan

Sekilas sejarah dan mitos-mitos tentang cloud hosting.

Cloud hosting berasal dari istilah cloud computing. Cloud computing dipopulerkan oleh Google dan Amazon pada tahun 2006.

Di Indonesia, cloud hosting mulai populer pada tahun 2010. Sejak saat itu banyak brand hosting yang memakai kata cloud.

Jika Anda berencana membuat blog dan membeli hosting. Jangan sampai terkecoh dengan istilah cloud ini. Ada yang menerapkan konsep cloud tetapi lebih banyak yang asal ada kata cloud aja.

Pada dasarnya, jika hosting cloud beneran. Anda seharusnya tidak dipusingkan dengan masalah scaling.

22 pemikiran pada “7 mitos cloud hosting, bedanya dengan hosting tradisional”

    • Betul kak. Bukan beberapa lagi, tapi banyak. Kebanyakan ya gitu, Cloud Hosting = Shared hosting dan Cloud VPS = Virtual Server.

      Padahal kalo bicara cloud, fitur paling utamanya mudah scaling, ketika ada trafik naik, hosting bisa scaling dengan mudah.

      Bayangin rumah. Shared hosting itu satu rumah diisi 10 keluarga. Sedangkan virtual hosting itu Gedung apartmen. satu apartemen di isi satu keluarga.

      Balas
      • saya sekarang pake yang judulnya cloud hosting, hingga saat itu sih aman-aman saja, up-timenya on terus, downtime jarang banget, cuma pas kalo ada maintenance server saja, itu pun hanya beberapa menit di bukan prime-time dan ada pemberitahuan dari jauh hari.
        Sebelumnya pake shared hosting yang selalu crashed kalo trafik blog ku naik.
        Saya pikir itu beda cloud hosting dan shared hosting, tapi ternyata sama kah? Bedanya dimana ya? karena yang saya alami, could hosting ini lancar sekali dibanding saat saya pake shared hosting.
        another question, VPS itu kan kebanyakan penyedia hosting cuma sediain apartemennya, urusan ngurusnya mereka gak mau cawe-cawe, jadi kita mesti ngerti banget ngurus hosting atau punya team yang master. Jadi parno mau pake itu. apakah ada penyedia hosting yang menyediakan layanan VPS tapi blogger terima bersih gak pake harus ngurus detail hostingnya?

        Balas
        • Wah good for you kak. Masih banyak kok hosting cloud beneran juga. Kalo udah cepat dan nyaman kan tinggal fokus ngembangin blognya πŸ‘οΈ

          Ada kak solusinya, sekarang sudah banyak managed cloud. Kalo saya dulu pernah pakai CloudWays, mereka behind the scene memakai service-service cloud. Tetapi harganya ini fixed, karena resource nya sudah di cap.

          Kalo VPS tradisional memang seperti itu, kalo tidak terlalu fasih dengan hal-hal teknikal, malah jadinya bukan nguntungin kak. Saya kedepan ada ide bikin tutorial mantaince VPS, tapi lihat-lihat dulu peminatnya kak. Soalnya terlalu teknikal.

          Balas
      • aku sering banget liat penawaran cloud hosting murah untuk blog, awalnya gak tertarik karena masih pake platform gratisan.
        tapi semakin ke sini, kayanya perlu juga ya untuk meningkatkan performa. setidaknya setelah baca ini aku jadi tahu apa aja pertimbangan pilih cloud hosting.

        Balas
  1. dari dulu sudah nyaman pakai hosting tradisional. pengen pindah vps masih pikir-pikir biaya πŸ˜€

    Balas
    • Pindah aja kak, banyak kok sekarang VPS yang murah-murah dan kenceng. Coba mampir ke diskusiwebhosting.com atau lowendtalk.com banyak promo VPS πŸ‘οΈ.

      Balas
  2. Jadi, cloud hosting itu lebih powerful dibanding hosting biasa ya? terutama untuk website skala besar yang menangani trafik tinggi

    Balas
    • Betul, cloud hosting brandingnya seperti itu. Bisa scaling dengan fleksibel. Contoh mungking Netflix, mereka pakai AWS dari Amazon, service mereka bisa se-mulus ini tidak lepas dari mudahnya scaling.

      Balas
  3. Saya sendiri sedang menggunakan cloudhosting di salah satu penyedia layanan hosting terkemuka di Indonesia. Tim layanan bantuan juga mau membantu untuk urusan servernya, jadi saya hanya fokus ke isi konten website blog. Apakah sebenarnya cloud hosting yg beneran cloud cuma sedikit dan banyak dari penyedia hosting memang dengan sengaja menyematkan kata cloud hosting agar dipandang bagus ya?

    Balas
    • Banyak ko kak layanan cloud hosting beneran. Cuman maksud saya, sering banget saya lihat sekarang, kata “cloud” itu hanya jadi pemanis aja. Padahal praktiknya masih pakai tradisional hosting.

      Saya rasa tradisional hosting banyak advantage nya juga kak, karena resource nya fixed, kita bisa prediksi harganya.

      Dan soal bagus atau tidak bagus, mungkin lebih tepatnya gimana kebutuhan blognya, kalau blognya punya trafik yang dinamis, seperti peak di hari-hari tertentu, tradisional hosting bisa jadi kemahalan kak, karena kita akan bayar resource-resource yang tidak terpakai di hari-hari yang sepi pengunjungnya.

      Balas
  4. karena skrg zaman sudah semakin canggih dengan teknologi, cloud hosting itu memang lebih powerful yaa.. apalagi kalau untuk website skala besar pasti lebih membutuhkannya.

    Balas
  5. Dulu juga pengen pakai cloud hosting, karena nggak jago IT jadinya maju mundur. Tapi kalau saya hitung cloud hosting memang lebih mahal dari tradisional ya. Kan ada biaya traffic itu.. πŸ™ˆ

    Balas
  6. Baru paham maksud cloud hosting itu apa, ternyata sesuai namanya, ya, mudah ditemukan dmn2 alias mudah mengakses. Thanks for sharing kak

    Balas
  7. Sampai hari ini belum pernah sewa hosting. Baru sewa domain. Tapi artikelnya menarik. Memberi perbedaan yg jelas antara hosting cloud dan tradisional. Dan membuktikan hosting cloud tuh bukan mahal tapi effekfitas pemakaian.. ya ibarat token sih mungkin..

    Balas
  8. Bloger emang seharusnya bisa “benerin” blohmgnya sendiri ya mas, karena nggak mungkin setiap saat nyari tukang juga sedangkan kerjaan juga nggak bisa ditebak

    Balas
  9. Masih dengan hosting tradisional, tapi thanks sharingnya kak mungkin nnt ada kesempatan buat cobain cloud hosting

    Balas
  10. Lucu sih yaa, namanya…cloud host.
    Dan ternyata fungsinya layaknya perpustakaan yang menyimpan banyak data dan siap digunakan lebih mudah karena tinggal dipanggil menggunakan perintah.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke Putu Felisia Batalkan balasan